info@mikti.org / +62 812 8977 2256

Home » Berita » Hambatan Seorang Guru Yang Mengajar di Pelosok Negeri

Hambatan Seorang Guru Yang Mengajar di Pelosok Negeri

Imbauan untuk belajar di rumah yang diberlakukan kepada semua lembaga pendidikan selama masa pandemi merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Diketahui akibat dari anjuran tersebut, seluruh lembaga pendidikan mau tidak mau harus beralih dari sebelumnya melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) langsung di ruang kelas, kini berpindah melalui kelas daring atau online.

Sepintas peralihan KBM dari langsung di ruang kelas menjadi kelas online terdengar hal yang mudah. Namun, pada kenyataannya di lapangan, sarana serta fasilitas yang tidak memadai bahkan tidak ada menjadikan KBM dalam jaringan menjadi terkendala.

Melaksanakan KBM memakai sistem online sudah berlangsung selama dua bulan, seluruh permasalahan serta hambatan mulai bermunculan. Sayangnya, tidak seluruh anak sama dalam perihal kepemilikan sarana alat komunikasi, banyak di antara para siswa yang hanya mempunyai alat komunikasi atau gawai. Tidak hanya itu jika mereka sudah memiliki gawai, keterbatasan kuota serta jaringan yang kurang menunjang pula jadi hambatan, ditambah lagi orangtua yang tidak biasa menggunakan gawai.

Hambatan ini tidak hanya dialami oleh siswa saja, namun guru pun merasakan hal yang sama. Anggaplah KBM sistem online dapat dicoba oleh guru muda yang mahir dengan teknologi. Berbeda halnya dengan guru yang gagap teknologi dan guru yang berdomisili di desa dan sulit untuk mendapatkan sinyal. Seperti halnya yang dikeluhkan oleh Hasby, seorang guru SMAN 1 Pulau Sebaku Kotabaru, Kalimantan Selatan “Kalau kawan-kawan yang memang sekolah di kota dan siswa bertempat di kota cukup lancar. Sedangkan saya karena mengajar di pelosok yang mana listrik hanya menyala 12 jam maka kendala kadang memang ganguan listrik dan koneksi juga” katanya.

Menurut Hasby, tidak semua guru bias mengajar dengan efektif, seperti halnya ia yang tinggal di daerah seberang pulau yang memiliki kendala kalau siang ia tidak bisa mengajar karena tidak ada akses listrik.

Dengan kendala- kendala tersebut pasti butuh pemecahan supaya proses belajar mengajar senantiasa tersalurkan dengan baik, sekalipun wajib dicoba di rumah. Tetapi sepertinya pemecahan terbaik ialah senantiasa berupaya sebaik mungkin dengan menjajaki tawaran belajar online dan mengikuti ketentuan serta keputusan sekolah masing- masing.

Nyatanya dengan terdapatnya wabah ini membagikan pelajaran buat kita kalau belajar di ruang kelas dengan guru secara langsung tidak bisa tergantikan oleh apapun. Sebab sebesar apapun ketidak efisien KBM di ruang kelas senantiasamerupakan hal yang terbaik, modul pelajaran bisa di informasikan dengan langsung, bila terdapat siswa yang tidak mengerti mereka dapat secara langsung bertanya kepada guru yang bersangkutan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *