info@mikti.org / +62 812 8977 2256

Home » Berita » 10 Tren Teknologi Baru Startup di Era New Normal

10 Tren Teknologi Baru Startup di Era New Normal

JAKARTA – Bambang PS Brodjonegoro selaku Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional berpendapat bahwa ada sepuluh tren teknologi yang dapat menjadi peluang baru bagi perusahan rintisan atau startup Indonesia di tengah masa kenormalan baru akibat pandemi Covid-19.

Bambang mengatakan sepuluh tren teknologi itu mencakup belanja daring (e-commerce), pembayaran digital (finance tech), teleworking (work from home), telemedicine, tele-education dan training, hiburan daring, rantai pasokan atau supply chain 4.0, 3D printing, robot dan drone, serta teknologi 5G dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

“Sepuluh tren teknologi ini tidak hanya akan terjadi selama masa darurat wabah Covid-19 namun diperkirakan menjadi masa depan baru atau new future bagi Indonesia dan dunia,” kata Bambang melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis.com, Jakarta, pada Sabtu (13/6/2020).

Sebagai contoh inovasi dalam bidang telemedicine yang sudah diaplikasikan adalah Robot Medical Assistant ITS – Airlangga (RAISA) yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA).
“Salah satu temuan riset Covid-19 dari ITS, robot yang bisa mensubstitusi perawat, memberikan makan, memberikan obat, sampai mengecek infus itu bisa dilakukan oleh robot sehingga perawat tidak perlu terlalu sering bertemu pasien, karena sering bertemu pasien berarti eksposur terhadap Covid-19 juga semakin tinggi,” tutur Bambang.

Selain itu, dia juga mengatakan, belanja daring dan pembayaran digital mulai digemari oleh masyarakat dibanding model konvensional.
“Yang milenial pasti sudah seratus persen barangkali mengalihkan kegiatan belanjanya menuju e-commerce bahkan untuk ibu-ibu yang biasanya lebih senang mencari sendiri ke supermarket sekarang lebih senang kalau bisa pesan lewat supermarket online dan langsung diantar ke rumah. Ini berarti logistik sudah jalan,” ungkapnya.

Maka dari itu, dia meminta, kaum milenial terutama dari perguruan untuk tidak hanya melihat startup dalam lingkup bisnis berbasis online saja tetapi juga mulai melihat bidang-bidang lain yang sudah harus menerapkan teknologi terbaru.

Salah satunya, menurut Bambang startup di bidang genome bernama Nusantics yang didukung oleh Kemenristek/BRIN serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Nusantics berhasil merancang reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) test kit untuk deteksi Covid-19 yang akan diproduksi massal oleh PT Bio Farma.

Pandu Patria Sjahrir sebagai Investor Startup sekaligus pendiri Indies Capital mengatakan, para pelaku usaha startup dapat memanfaatkan situasi tersebut. Pandu memberikan contoh logistik, menurutnya ke depan akan menjadi tren bisnis startup adalah e-logistik.

Jenis startup tersebut juga relevan dengan kondisi pandemi saat ini. Selain itu pandemi juga menimbulkan permasalahan di bidang pendidikan dan kesehatan di masyarakat.

“Saya yakin startup yang bisa mengembangkan platform untuk mengatasi masalah kedua bidang itu akan bisa berkembang cepat,” tuturnya, dalam rilis yang diterima Bisnis, Selasa (9/6/2020).

 

Pandu berpendapat, para investor pun banyak yang akan mendukung perusahaan rintisan dengan memberikan suntikan modal. Terlebih dari sisi pasar, startup memiliki segmentasi yang luas.

“Secara garis besar memang market-nya ini, potensinya sangat besar. Misalnya e-commerce, kan orang belanja masih 98% offlineonline-nya masih 2 persen. Kalau kita bisa naik 10 persen saja, itu udah 5 kali lipat,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *